Menurut saya, dalam hidup tentu saja mempelajari ilmu budaya dasar sangat diperlukan karena kita dapat mempelajari tentang perilaku dirinya sendiri maupun perilaku orang lain, dapat menjadi perbekalan untuk pergaulan di dalam hidup, lebih peka terhadap masalah-masalah pemikiran serta perilaku manusia dan peraturan yang diciptakannya, sebagai calon pemimpin bangsa serta ahli dalam disiplin ilmu tidak jatuh kedalam sifat-sifat kedaerahan dan perkotaan sebagai displin ilmu yang kaku, dapat menciptakan sifat kebudayaan yang universal dan dinamis, mampu menciptakan hubungan yang harmonis antara manusia maupun kelompok, dari manfaat mempelajari ilmu budaya dasar di atas disimpulkan bahwa mempelajari ilmu budaya memang sangat penting dan diperlukan, dan setiap manusia perlu untuk mempelajari ilmu budaya dasar. Dan apabila kita sudah mempelajari ilmu budaya dasar seutuhnya tentu saja kita dapat menjadi manusia yang jauh lebih baik lagi, contohnya saja untuk seorang manajer, tentu harus belajar dan memahami tentang ilmu budaya dasar, karena harus mengetahui bagaimanakah sikap yang sesuai untuk menjadi manajer dan sikap yang harus diambil kepada bawahan maupun atasan, initnya kita harus dapat menyesuaikan dengan siapa kita berhadapan, dan bagaimana sikap kita terhadap masing-masing orang tersebut.
Minggu, 04 November 2012
Budaya berkolerasi dengan kepribadian
Budaya secara individu itu berkorelasi dengan kepribadian, sehingga budaya berhubungan dengan pola prilaku seseorang ketika berhadapan dengan sebuah masalah hidup dan sikap terhadap pekerjaanya. Didalamnya ada sikap reaktif seorang pendidik terhadap perubahan kebijakan pemerintah dalam otonomi kampus sebagaimana yang terjadi, dimana dengan adanya komersialisasi kampus bisa kah berpengaruh terhadap perubahan kultur akademis penididik dalam sehari-harinya.
Dilihat dari unsur perbedaan budaya juga menyangkut ciri khas yang membedakan antara individu yang satu dengan individu yang lain ataupun yang membedakaan antara profesi yang satu dengan profesi yang lain. Seperti perbedaan budaya seorang dokter dengan seorang dosen, seorang akuntan dengan seorang spesialis, seorang professional dengan seorang amatiran.
Ciri khas ini bisa diambil dari hasil internalisasi individu dalam organisasi ataupun juga sebagai hasil adopsi dari organisasi yang mempengaruhi pencitraan sehingga dianggap sebagai kultur sendiri yang ternyata pengertiannya masih relatif dan bersifat abstrak. Kita lihat pengertian budaya yang diungkapkan oleh Prof. Dr. Soerjono Soekanto mendefinisikan budaya sebagai : “Sebuah sistem nilai yang dianut seseorang pendukung budaya tersebut yang mencakup konsepsi abstrak tentang baik dan buruk. atau secara institusi nilai yang dianut oleh suatu organisasi yang diadopsi dari organisasi lain baik melalui reinventing maupun re-organizing.
Dilihat dari unsur perbedaan budaya juga menyangkut ciri khas yang membedakan antara individu yang satu dengan individu yang lain ataupun yang membedakaan antara profesi yang satu dengan profesi yang lain. Seperti perbedaan budaya seorang dokter dengan seorang dosen, seorang akuntan dengan seorang spesialis, seorang professional dengan seorang amatiran.
Ciri khas ini bisa diambil dari hasil internalisasi individu dalam organisasi ataupun juga sebagai hasil adopsi dari organisasi yang mempengaruhi pencitraan sehingga dianggap sebagai kultur sendiri yang ternyata pengertiannya masih relatif dan bersifat abstrak. Kita lihat pengertian budaya yang diungkapkan oleh Prof. Dr. Soerjono Soekanto mendefinisikan budaya sebagai : “Sebuah sistem nilai yang dianut seseorang pendukung budaya tersebut yang mencakup konsepsi abstrak tentang baik dan buruk. atau secara institusi nilai yang dianut oleh suatu organisasi yang diadopsi dari organisasi lain baik melalui reinventing maupun re-organizing.
Pentingnya Budaya ber-Komunikasi yang baik dalam kemampuan Manajeria
Pentingnya Budaya ber-Komunikasi yang baik dalam kemampuan Manajeria
Kualitas manajemen memiliki peranan signifikan terhadap keberhasilan pengembangan sumberdaya. Agar peluang keberhasilan tersebut semakin membesar, maka program peningkatan kualitas sumberdaya manusia Indonesia dibidang manajemen masih harus terus dilaksanakan. Terlebih dengan datangnya era globalisasi, tantangan tersebut bertambah menjadi permasalahan tersendiri yakni bagaimana agar kemampuan manajerial tenaga kerja Indonesia tidak tersisihkan oleh tenaga kerja dari bangsa lain. Selain itu, isu – isu lingkungan dan hak asasi manusia juga harus dapat ditangani dengan pendekatan manajemen yang lebih baik. Teknik berkomunikasi yang efektif termasuk salah satu unsur dari metode pendekatan tersebut. Dengan adanya saling kesepahaman antara pelaku industri dan komunitas masyarakat disekitarnya, potensi konflik niscaya bisa diredam bahkan dihilangkan.
Kepemilikan sumberdaya sudah sewajibnya diimbangi dengan kemampuan manajerial, agar kepemilikan tersebut dapat dijadikan sebuah keunggulan. Kemampuan manajerial menjadi sangat penting, karena dengan kemampuan itu bahkan dapat dilakukan berbagai strategi untuk meningkatkan keamanan dan ketahanan negara. Terlebih jika mengingat peranan strategis sumberdaya bagi dunia serta pengaruhnya dalam hubungan internasional.
Selama ini kemampuan manajerial cenderung didapat melalui pengalaman dilapangan dibandingkan dari pendidikan akademik, oleh sebab itu Pemerintah dan institusi pendidikan yang terkait berkewajiban menyediakan jalan pintas guna memenuhi kebutuhan peningkatan kemampuan manajerial tersebut. Langkah praktis yang dapat ditempuh diantaranya melalui pelatihan khusus tentang manajemen perusahaan pengelola berbagai macam sumberdaya, dengan strategi menciptakan standarisasi dan sertifikasi berdasar kompetensi internasional. Dengan demikian diharapkan kebutuhan akan manajer yang berkualitas dapat segera terpenuhi oleh sumberdaya manusia dari bangsa kita sendiri. Kemampuan berkomunikasi yang baik akan sangat berpengaruh terhadap laju perkembangan organisasinya tersebut. Seorang manajer harus mampu memberi instruksi yang jelas terhadap karyawannya agar tidak terjadi kesalah pahamanah yang dapat menghambat perkembanagan organisasinya tersebut. Bukan hanya dengan berbahasa Indonesia tetapi akan lebih baik jika seorang manajer menguasai bahasa asing agar dapat menjalin kerjasama yang baik dengan negara-negara lainnya.
Kualitas manajemen memiliki peranan signifikan terhadap keberhasilan pengembangan sumberdaya. Agar peluang keberhasilan tersebut semakin membesar, maka program peningkatan kualitas sumberdaya manusia Indonesia dibidang manajemen masih harus terus dilaksanakan. Terlebih dengan datangnya era globalisasi, tantangan tersebut bertambah menjadi permasalahan tersendiri yakni bagaimana agar kemampuan manajerial tenaga kerja Indonesia tidak tersisihkan oleh tenaga kerja dari bangsa lain. Selain itu, isu – isu lingkungan dan hak asasi manusia juga harus dapat ditangani dengan pendekatan manajemen yang lebih baik. Teknik berkomunikasi yang efektif termasuk salah satu unsur dari metode pendekatan tersebut. Dengan adanya saling kesepahaman antara pelaku industri dan komunitas masyarakat disekitarnya, potensi konflik niscaya bisa diredam bahkan dihilangkan.
Kepemilikan sumberdaya sudah sewajibnya diimbangi dengan kemampuan manajerial, agar kepemilikan tersebut dapat dijadikan sebuah keunggulan. Kemampuan manajerial menjadi sangat penting, karena dengan kemampuan itu bahkan dapat dilakukan berbagai strategi untuk meningkatkan keamanan dan ketahanan negara. Terlebih jika mengingat peranan strategis sumberdaya bagi dunia serta pengaruhnya dalam hubungan internasional.
Selama ini kemampuan manajerial cenderung didapat melalui pengalaman dilapangan dibandingkan dari pendidikan akademik, oleh sebab itu Pemerintah dan institusi pendidikan yang terkait berkewajiban menyediakan jalan pintas guna memenuhi kebutuhan peningkatan kemampuan manajerial tersebut. Langkah praktis yang dapat ditempuh diantaranya melalui pelatihan khusus tentang manajemen perusahaan pengelola berbagai macam sumberdaya, dengan strategi menciptakan standarisasi dan sertifikasi berdasar kompetensi internasional. Dengan demikian diharapkan kebutuhan akan manajer yang berkualitas dapat segera terpenuhi oleh sumberdaya manusia dari bangsa kita sendiri. Kemampuan berkomunikasi yang baik akan sangat berpengaruh terhadap laju perkembangan organisasinya tersebut. Seorang manajer harus mampu memberi instruksi yang jelas terhadap karyawannya agar tidak terjadi kesalah pahamanah yang dapat menghambat perkembanagan organisasinya tersebut. Bukan hanya dengan berbahasa Indonesia tetapi akan lebih baik jika seorang manajer menguasai bahasa asing agar dapat menjalin kerjasama yang baik dengan negara-negara lainnya.
Budaya manajeria dalam menghadapi masalah
Manajemen sebagai inti setiap organisasi pengelola sumberdaya perlu memposisikan diri dengan tepat untuk dapat menghadapi setiap tantangan dan permasalahan yang muncul dibidang tersebut. Terutama pada saat ini dimana era globalisai telah tiba dengan sistem pasar bebas dan isu – isu lingkungan serta hak asasi manusia yang didengungkannya.
Mengingat pentingnya peranan keterampilan manajerial dalam kegiatan pengembangan sumberdaya. Maksud dari kata-kata tersebut adalah pembahasan untuk lebih memahami peranan keterampilan manajerial dalam menentukan keberhasilan perusahaan pertambangan, dengan tujuan menemukan upaya apa saja yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan manajerial tersebut.
Seperti contoh dalam manajemen sumberdaya mineral, sumberdaya manusia yang diperlukan dapat digolongkan dalam empat bidang, yaitu pengaturan, industri, penelitian-pengembangan, dan internasional. Bidang pengaturan dilakukan oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam bentuk organisasi Departemen, Kantor Wilayah, dan Dinas. Bidang industri dilaksanakan oleh pelaku industri pertambangan, baik BUMN, swasta, koperasi maupun perorangan. Pada semua bidang diatas diperlukan hampir semua jenis dan tingkat keahlian manajerial.
Karena globalisasi sudah merupakan norma yang dianut dunia internasional, penyiapan sumberdaya manusia kini menjadi lebih penting lagi. Semua negara yang ingin bergaul secara internasional harus membuka pintunya lebar-lebar. Tidak boleh ada hambatan, tarif, atau persyaratan lain. Kemampuan manajerial sebagai inti dari kegiatan organisasi sangat berperan dalam menghadapi dan mengambil sikap terhadap semua kecendrungan tersebut.
Pemerintah selama ini telah berupaya mendorong peningkatan sumberdaya manusia di bidang pengembangan mineral dengan menetapkan berbagai kebijakan. Diantaranya adalah kewajiban bagi para kontraktor asing untuk melakukan proses Indonesiasi, yaitu secara berencana dan bertahap tenaga kerja di perusahaan tersebut diserahkan kepada bangsa Indonesia. Cakupan jenis pekerjaannya mulai dari yang paling bawah sampai jabatan puncak. Hal ini sudah banyak dilaksanakan pada beberapa perusahaan.
Pemerintah juga menetapkan program yang terencana untuk mendidik orang di bidang keahlian tertentu. Setiap ahli yang didatangkan dari luar negeri diwajibkan menyetor sejumlah uang yang disebut Iuran Wajib Pendidikan dan Latihan (IWPL). Dana yang dikumpulkan dari IWPL ini kemudian dipakai untuk penyelenggaraan berbagai kursus atau peningkatan keahlian, termasuk keahlian formal yang harus dipelajari di perguruan tinggi. Karena itulah dana tersebut sebagian disalurkan ke perguruan tinggi yang ada kaitannya dengan pengembangan sumberdaya mineral. Bila tenaga di bidang keahlian tersebut sudah cukup tersedia di dalam negeri, tidak diperkenankan lagi mendatangkannya dari luar negeri.
Posisi yang sulit untuk dipenuhi oleh tenaga Indonesia adalah posisi manajer, karena pendidikan untuk kedudukan tersebut tidak dapat dilaksanakan di dalam ruangan kelas. Perusahaan terkadang menetapkan persyaratan yang sulit dipenuhi, misalnya harus pernah bekerja di luar negeri pada perusahaan yang bergerak di bidang yang sama.
Mengingat pentingnya peranan keterampilan manajerial dalam kegiatan pengembangan sumberdaya. Maksud dari kata-kata tersebut adalah pembahasan untuk lebih memahami peranan keterampilan manajerial dalam menentukan keberhasilan perusahaan pertambangan, dengan tujuan menemukan upaya apa saja yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan manajerial tersebut.
Seperti contoh dalam manajemen sumberdaya mineral, sumberdaya manusia yang diperlukan dapat digolongkan dalam empat bidang, yaitu pengaturan, industri, penelitian-pengembangan, dan internasional. Bidang pengaturan dilakukan oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam bentuk organisasi Departemen, Kantor Wilayah, dan Dinas. Bidang industri dilaksanakan oleh pelaku industri pertambangan, baik BUMN, swasta, koperasi maupun perorangan. Pada semua bidang diatas diperlukan hampir semua jenis dan tingkat keahlian manajerial.
Karena globalisasi sudah merupakan norma yang dianut dunia internasional, penyiapan sumberdaya manusia kini menjadi lebih penting lagi. Semua negara yang ingin bergaul secara internasional harus membuka pintunya lebar-lebar. Tidak boleh ada hambatan, tarif, atau persyaratan lain. Kemampuan manajerial sebagai inti dari kegiatan organisasi sangat berperan dalam menghadapi dan mengambil sikap terhadap semua kecendrungan tersebut.
Pemerintah selama ini telah berupaya mendorong peningkatan sumberdaya manusia di bidang pengembangan mineral dengan menetapkan berbagai kebijakan. Diantaranya adalah kewajiban bagi para kontraktor asing untuk melakukan proses Indonesiasi, yaitu secara berencana dan bertahap tenaga kerja di perusahaan tersebut diserahkan kepada bangsa Indonesia. Cakupan jenis pekerjaannya mulai dari yang paling bawah sampai jabatan puncak. Hal ini sudah banyak dilaksanakan pada beberapa perusahaan.
Pemerintah juga menetapkan program yang terencana untuk mendidik orang di bidang keahlian tertentu. Setiap ahli yang didatangkan dari luar negeri diwajibkan menyetor sejumlah uang yang disebut Iuran Wajib Pendidikan dan Latihan (IWPL). Dana yang dikumpulkan dari IWPL ini kemudian dipakai untuk penyelenggaraan berbagai kursus atau peningkatan keahlian, termasuk keahlian formal yang harus dipelajari di perguruan tinggi. Karena itulah dana tersebut sebagian disalurkan ke perguruan tinggi yang ada kaitannya dengan pengembangan sumberdaya mineral. Bila tenaga di bidang keahlian tersebut sudah cukup tersedia di dalam negeri, tidak diperkenankan lagi mendatangkannya dari luar negeri.
Posisi yang sulit untuk dipenuhi oleh tenaga Indonesia adalah posisi manajer, karena pendidikan untuk kedudukan tersebut tidak dapat dilaksanakan di dalam ruangan kelas. Perusahaan terkadang menetapkan persyaratan yang sulit dipenuhi, misalnya harus pernah bekerja di luar negeri pada perusahaan yang bergerak di bidang yang sama.
Hal yang mempengaruhi budaya berorganisasi
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pembentukan budaya organisasi terjadi karena anggota organisasi belajar menghadapi masalah, baik masalah-masalah yang menyangkut perubahan eksternal maupun masalah internal yang menyangkut persatuan dan keutuhan organisasi
Pembentukan budaya akademisi dalam organisasi diawali oleh para pendiri (founder) institusi melalui tahapan-tahapan sebagai berikut :
Seseorang mempunyai gagasan untuk mendirikan organisasi.
Ia menggali dan mengarahkan sumber-sumber baik orang yang sepaham dan setujuan dengan dia (SDM), biaya dan teknologi.
Mereka meletakan dasar organisasi berupa susunan organisasi dan tata kerja.
Menurut Vijay Sathe dengan melihat asumsi dasar yang diterapkan dalam suatu organisasi yang membagi Berbagi Asumsi Sharing berarti berbagi nilai yang sama atau nilai yang sama dianut oleh sebanyak mungkin warga organisasi. Asumsi nilai yang berlaku sama ini dianggap sebagai faktor-faktor yang membentuk budaya organisasi yang dapat dibagi menjadi :
Berbagi Hal, misalnya pakaian seragam seperti pakaian Korpri untuk PNS, batik PGRI yang menjadi ciri khas organisasi tersebut.
Berbagi perkataan, misalnya ungkapan-ungkapan bersayap, ungkapan slogan, pemeo seperti didunia pendidikan terdapat istilah Tut wuri handayani, Baldatun thoyibatun wa robbun ghoffur diperguruan muhammadiyah.
Berbagi lakuan, misalnya pertemuan, kerja bakti, kegiatan sosial sebagai bentuk aktifitas rutin yang menjadi ciri khas suatu organisasi seperti istilah mapalus di Sulawesi, nguopin di Bali.
Berbagi perasaan, turut bela sungkawa, aniversary, ucapan selamat, acara wisuda mahasiswa dan lain sebagainya.
Suatu budaya organisasi harus diarahkan pada penciptaan nilai yang pada intinya faktor yang terkandung dalam budaya organisasi. Dan sistem-sistem tersebut harus mencakup faktor-faktor antara lain : Keyakinan, Nilai, Norma, Gaya, Kredo dan Keyakinan terhadap kemampuan pekerja
Untuk mewujudkan tertanamnya budaya organisasi tersebut harus didahului oleh adanya integrasi atau kesatuan pandangan barulah pendekatan manajerial
bisa dilaksanakan antara lain berupa : Menciptakan bahasa yang sama dan warna konsep yang muncul, Menentukan batas-batas antar kelompok, Distribusi wewenang dan status, Mengembangkan syariat, tharekat dan ma’rifat yang mendukung norma kebersamaan, Menentukan imbalan dan ganjaran, Menjelaskan perbedaan agama dan ideologi.
Pembentukan budaya akademisi dalam organisasi diawali oleh para pendiri (founder) institusi melalui tahapan-tahapan sebagai berikut :
Seseorang mempunyai gagasan untuk mendirikan organisasi.
Ia menggali dan mengarahkan sumber-sumber baik orang yang sepaham dan setujuan dengan dia (SDM), biaya dan teknologi.
Mereka meletakan dasar organisasi berupa susunan organisasi dan tata kerja.
Menurut Vijay Sathe dengan melihat asumsi dasar yang diterapkan dalam suatu organisasi yang membagi Berbagi Asumsi Sharing berarti berbagi nilai yang sama atau nilai yang sama dianut oleh sebanyak mungkin warga organisasi. Asumsi nilai yang berlaku sama ini dianggap sebagai faktor-faktor yang membentuk budaya organisasi yang dapat dibagi menjadi :
Berbagi Hal, misalnya pakaian seragam seperti pakaian Korpri untuk PNS, batik PGRI yang menjadi ciri khas organisasi tersebut.
Berbagi perkataan, misalnya ungkapan-ungkapan bersayap, ungkapan slogan, pemeo seperti didunia pendidikan terdapat istilah Tut wuri handayani, Baldatun thoyibatun wa robbun ghoffur diperguruan muhammadiyah.
Berbagi lakuan, misalnya pertemuan, kerja bakti, kegiatan sosial sebagai bentuk aktifitas rutin yang menjadi ciri khas suatu organisasi seperti istilah mapalus di Sulawesi, nguopin di Bali.
Berbagi perasaan, turut bela sungkawa, aniversary, ucapan selamat, acara wisuda mahasiswa dan lain sebagainya.
Suatu budaya organisasi harus diarahkan pada penciptaan nilai yang pada intinya faktor yang terkandung dalam budaya organisasi. Dan sistem-sistem tersebut harus mencakup faktor-faktor antara lain : Keyakinan, Nilai, Norma, Gaya, Kredo dan Keyakinan terhadap kemampuan pekerja
Untuk mewujudkan tertanamnya budaya organisasi tersebut harus didahului oleh adanya integrasi atau kesatuan pandangan barulah pendekatan manajerial
bisa dilaksanakan antara lain berupa : Menciptakan bahasa yang sama dan warna konsep yang muncul, Menentukan batas-batas antar kelompok, Distribusi wewenang dan status, Mengembangkan syariat, tharekat dan ma’rifat yang mendukung norma kebersamaan, Menentukan imbalan dan ganjaran, Menjelaskan perbedaan agama dan ideologi.
Budaya bersikap sesuai profesi
Dalam hubungannya antara ilmu budaya dan kemampuan manajeria mengistilahkan budaya organisasi dengan istilah Kultur akademis yang pada intinya mengatur para pendidik agar mereka memahami bagaimana seharusnya bersikap terhadap profesinya, beradaptasi terhadap rekan kerja dan lingkungan kerjanya serta berlaku reaktif terhadap kebijakan pimpinannya, sehingga terbentuklah sebuah sistem nilai, kebiasaan (habits), citra akademis, ethos kerja yang terinternalisasikan dalam kehidupannya sehingga mendorong adanya apresiasi dirinya terhadap peningkatan prestasi kerja baik terbentuk oleh lingkungan organisasi itu sendiri maupun dikuatkan secara organisatoris oleh pimpinan akademis yang mengeluarkan sebuah kebijakan yang diterima ketika seseorang masuk organisasi tersebut.
Dan dalam sebuah organisasi dibutuhkan adanya seorang pemimpin yang berkualitas sehingga dapat memajukan organisasinya tersebut dan Para pimpinan itu khususnya dalam kapasitasnya menjalankan fungsinya sangat berperan penting dalam dua hal yaitu :
Mengkonsepsitualisasikan visi dan perubahan dan
Memiliki pengetahuan, keterampilan dan pemahaman untuk mengtransformasikan visi menjadi etos dan kultur akademis kedalam aksi riil
Terbentuknya Kultur akademis bisa dicapai melalui proses tranformasi dan perubahan tersebut sebagai metamorfosis institusi akademis menuju kultur akademis yang ideal. Budaya itu sendiri masuk dan terbentuk dalam pribadi seorang pemimpin itu melalui adanya adaptasi dengan lingkungan, pembiasaan tatanan yang sudah ada dalam etika kerja ataupun dengan membawa sistem nilai sebelumnya yang kemudian masuk dan diterima oleh institusi tersebut yang akhirnya terbentuklah sebuah budaya akademis dalam sebuah organisasi.
Pola pembiasaan dalam sebuah budaya sebagai sebuah nilai yang diakuinya bisa membentuk sebuah pola prilaku antara lain :Kebiasaan sebagai suatu kenyataan objektif sehari-hari yang merupakan sebuah kelajiman baik dalam sikap maupun dalam penampilan sehari-hari. Seorang pendidik sebagai profesionalis biasa berpenampilan rapi, berdasi dan berkemeja dan bersikap formal, sangat lain dengan melihat penampilan dosen institut seni yang melawan patokan formal yang berlaku didunia pendidikan dengan berpakaian kaos dan berambut panjang.Kebiasaan sebagai Kaidah yang diciptakan dirinya sendiri yaitu kebiasaan yang lahir dari diri pendidik itu sendiri yang kemudian menjadi ciri khas yang membedakan dengan yang lainnya. Kebiasaan sebagai perwujudan kemauan untuk berbuat sesuatu yaitu kebiasaan yang lahir dari motivasi dan inisatif yang mencerminkan adanya prestasi pribadi.Pengertian budaya yang penulis teliti lebih banyak berhubungan dengan kepribadian dan sikap seorang pemimpin dalam menyikapi pekerjaannya (profesionality), rekan kerjanya, kepemimpinan dan peningkatan karakter internal (maturity character) terhadap lembaganya baik dilihat dari sudut psikologis maupun sudut biologis seseorang. Dimana budaya akademis secara aplikatif dapat dilihat ketika para anggota civitas akademika sudah mempraktikan seluruh nilai dan sistem yang berlaku di perguruan tinggi dalam pribadinya secara konsisten.
Dan dalam sebuah organisasi dibutuhkan adanya seorang pemimpin yang berkualitas sehingga dapat memajukan organisasinya tersebut dan Para pimpinan itu khususnya dalam kapasitasnya menjalankan fungsinya sangat berperan penting dalam dua hal yaitu :
Mengkonsepsitualisasikan visi dan perubahan dan
Memiliki pengetahuan, keterampilan dan pemahaman untuk mengtransformasikan visi menjadi etos dan kultur akademis kedalam aksi riil
Terbentuknya Kultur akademis bisa dicapai melalui proses tranformasi dan perubahan tersebut sebagai metamorfosis institusi akademis menuju kultur akademis yang ideal. Budaya itu sendiri masuk dan terbentuk dalam pribadi seorang pemimpin itu melalui adanya adaptasi dengan lingkungan, pembiasaan tatanan yang sudah ada dalam etika kerja ataupun dengan membawa sistem nilai sebelumnya yang kemudian masuk dan diterima oleh institusi tersebut yang akhirnya terbentuklah sebuah budaya akademis dalam sebuah organisasi.
Pola pembiasaan dalam sebuah budaya sebagai sebuah nilai yang diakuinya bisa membentuk sebuah pola prilaku antara lain :Kebiasaan sebagai suatu kenyataan objektif sehari-hari yang merupakan sebuah kelajiman baik dalam sikap maupun dalam penampilan sehari-hari. Seorang pendidik sebagai profesionalis biasa berpenampilan rapi, berdasi dan berkemeja dan bersikap formal, sangat lain dengan melihat penampilan dosen institut seni yang melawan patokan formal yang berlaku didunia pendidikan dengan berpakaian kaos dan berambut panjang.Kebiasaan sebagai Kaidah yang diciptakan dirinya sendiri yaitu kebiasaan yang lahir dari diri pendidik itu sendiri yang kemudian menjadi ciri khas yang membedakan dengan yang lainnya. Kebiasaan sebagai perwujudan kemauan untuk berbuat sesuatu yaitu kebiasaan yang lahir dari motivasi dan inisatif yang mencerminkan adanya prestasi pribadi.Pengertian budaya yang penulis teliti lebih banyak berhubungan dengan kepribadian dan sikap seorang pemimpin dalam menyikapi pekerjaannya (profesionality), rekan kerjanya, kepemimpinan dan peningkatan karakter internal (maturity character) terhadap lembaganya baik dilihat dari sudut psikologis maupun sudut biologis seseorang. Dimana budaya akademis secara aplikatif dapat dilihat ketika para anggota civitas akademika sudah mempraktikan seluruh nilai dan sistem yang berlaku di perguruan tinggi dalam pribadinya secara konsisten.
Langganan:
Komentar (Atom)