Minggu, 20 Januari 2013

Tradisi Pukul Sapu

Pembahasan saya kali ini adalah mengenai tradisi pukul sapu yang datang dari daerah Maluku, tradisi yang tetap dipertahankan ini semula berawal ketika perjuagan Kapitan Telukabessy yang memimpin perjuangan rakyat Maluku melawan VOC tahun 1636-1646. Setelah dikalahkan , Kapitan Telukabessy dihukum mati. Pasukannya kemudian membubarkan diri dengan cara pukul sapu. Dan dengan demikian tradisi ini terus berkembang dari ratusan tahun yang lalu hingga sekarang ini. Tradisi ini kemudian bertahan hingga kini di Desa Morella dan Mamala, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Para pemuda dan lelaki dewasa ikut dalam pukul sapu di Morella dan Mamala. Ikut pukul sapu merupakan kebanggaan dan ujian kejantanan sebagai seorang laki-laki. Peserta dibagi menjadi dua kelompok, masing-masing terdiri dari 20 orang. Tiap petarung berdiri berhadapan dengan petarung dari kelompok lain di tengah arena berukuran lapagan bola kaki. Tiap orang memegang batang lidi enau untuk disabetkan. Lidi diganti baru jika rusak atau patah.
Kelompok yang mendapat giliran memukul, mundur beberapa langkah untuk mengambil jarak sebatang lidi. Peserta dari kelompok lawan berdiri sambil mengangkat lidi di atas kepala dan membiarkan bagian tubuhnya untuk disabet lidi. Saat wasit meniup pluit, para peserta menyabetkan lidi ke tubuh lawan diiringi teriakan penggugah semangat. Sabetan yang dilakukan meninggalkan bekas-bekas di tubuh mereka yang mengikuti acara ini. Selalu ada pro dan kontra di dalam setiap hal, namun kita coba untuk mengambil sisi positif dari kegiatan ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar